Seberapa Berbahayakah Covid-19?

Shalom pembaca yang budiman! Selama beberapa waktu terakhir, dunia dan Indonesia digemparkan oleh wabah penyakit COVID-19. Penyakit ini telah mempengaruhi kehidupan manusia dalam semua aspek secara global. Organisasi kesehatan dunia (WHO) sudah secara resmi mengumumkan penyakit ini sebagai pandemi global pada tanggal 12 Maret 2020. Namun, sudahkah kamu mengenal penyakit yang tengah menjadi perhatian serius dunia ini?

COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. COVID-19 merupakan singkatan dari Coronavirus Disease, dimana angka 19 merujuk pada tahun 2019, waktu dimana penyakit ini ditemukan. Sementara SARS-CoV-2 merupakan singkatan dari Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2, karena secara genetik, virus penyebab COVID-19 ini mirip dengan struktur coronavirus penyebab SARS yang menjadi pandemi pada 2003 silam, namun dengan beberapa perbedaan (WHO, 2020).

Sebagian besar penderita COVID-19 dapat mengalami berbagai gejala umum seperti demam, lemas, batuk kering, dan sesak napas dalam rentang waktu 2 – 14 hari setelah terpapar. Gejala lainnya yang dapat timbul meliputi nyeri di bagian dada, pilek, sakit tenggorokan, dan diare.

Namun orang yang telah terpapar virus penyebab COVID-19 dapat pula tidak menunjukkan gejala atau asimptomatik karena sistem imun tubuhnya yang kuat. Hal ini menyebabkan tubuh tidak mengalami gejala selama periode inkubasi walaupun sebenarnya ia sudah terpapar dan dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain. Biasanya hal ini dialami oleh orang – orang berusia muda dan disebut silent carrier.

Para penderita COVID-19 yang tergolong mild atau moderate dapat mengalami komplikasi pneumonia. Namun, pada penderita berusia lanjut, terutama yang juga menderita penyakit lain (komorbid) seperti penyakit jantung, diabetes, hipertensi, gangguan pernafasan berat, dan kanker menjadi lebih rentan sehingga bila terpapar SARS-CoV-2 akan beresiko mengalami pneumonia dan komplikasi berat lain yang dapat berujung pada kematian(WHO, 2020).

Dilansir dari situs worldometers pada saat artikel ini ditulis (26 April 2020), COVID-19 telah menyerang hampir 3 juta orang dan menyebabkan 200 ribu kematian di dunia.Di Indonesia sendiri, COVID-19 telah menyerang hampir 9 ribu orang dan menyebabkan 743 kematian. Kecenderungan peningkatan jumlah pasien dan tingkat kematian yang tinggi (sekitar 8 persen) membuat kita harus selalu waspada. Terlebih, karena penularannya yang sangat mudah dan tidak kasat mata.

Jalur penularan termudah dari penyakit ini adalah melalui droplet (percikan cairan). Penyakit dapat menular apabila orang yang sehat terkena atau menghirup droplet yang keluar dari hidung atau mulut penderita COVID-19, baik ketika penderita batuk, bersin, maupun berbicara. Penyakit juga dapat menular jika orang yang sehat menyentuh benda yang tercemar oleh droplet tersebut, kemudian memegang mata, hidung, atau mulut.

Saat ini belum tersedia vaksin dan obat spesifik untuk mencegah atau mengobati COVID-19. Usaha yang dapat kita lakukan untuk menekan penyebaran COVID-19 adalah menerapkan empat langkah pencegahan berikut.

  1. Menjaga kebersihan diri dengan rajin mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun. Apabila tidak tersedia, hand sanitizer berbahan alkohol 70% dapat menjadi alternatif. Hindari menyentuh wajah terutama jika belum membersihkan tangan.
  2. Terapkan physical distancing. Sebisa mungkin tetaplah berada di rumah dan hindari interaksi fisik dengan orang lain. Gunakan masker jika terpaksa keluar rumah dan jaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain. Cukup gunakan masker kain agar masker medis dapat digunakan oleh tenaga kesehatan yang lebih membutuhkan.
  3. Tetap menjaga kesehatan tubuh dengan makan makanan bergizi dan berolahraga di rumah, serta istirahat yang cukup.
  4. Rajin mendengarkan berita untuk memperoleh informasi terkini dan himbauan dari pemerintah atau organisasi resmi yang berwenang(CDC, 2020).

Penderita COVID-19 dapat dideteksi melalui dua cara, yaitu Rapid Test dan Swab TestRapid Test dilaksanakan dengan menggunakan sampel darah dimana antibodi pasien akan diukur untuk mendeteksi ada atau tidaknya virus COVID-19. Apabila Rapid Test memberikan hasil negatif, kemungkinan besar orang tersebut tidak menderita COVID-19. Namun, apabila hasilnya positif, perlu dilakukan tes PCR untuk memastikan keberadaan virus SARS-CoV-2.

Metode PCR atau juga dikenal dengan Swab Test menggunakan sampel cairan dari saluran pernapasan bawah (tenggorokan). Sampel cairan tersebut dibawa ke lab, dimana para peneliti akan mengekstrak materi genetik di dalamnya. Jika seseorang benar positif terjangkit COVID-19, maka akan ditemukan materi genetik SARS-CoV-2 di dalamnya (Tan, 2020).

Apabila kamu atau orang di sekitarmu mengalami gejala COVID-19, penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter agar dapat diperiksa secara tepat jika memang diperlukan. Jangan merasa takut atau malu untuk memeriksakan diri dan terbuka pada dokter karena COVID-19 bukanlah aib yang perlu ditutupi.

Setelah diperiksa, orang yang berpotensi mengalami COVID-19 akan dikelompokkan sebagai ODP, PDP, atau Positif Korona. ODP (Orang Dalam Pemantauan) adalah mereka yang memiliki gejala batuk, sakit tenggorokan, atau demam tetapi tidak ada kontak erat dengan pasien positif sehingga dilakukan karantina mandiri di rumah. Sementara PDP (Pasien Dalam Pemantauan) adalah mereka yang memiliki gejala tersebut termasuk sesak napas, serta hasil observasi menunjukkan adanya gangguan pada saluran pernapasan bawah dan memiliki histori kontak erat dengan pasien positif COVID-19.

Bila kamu atau orang di sekitarmu didiagnosis positif COVID-19, peluang untuk sembuh tetaplah terbuka lebar. Faktanya, di Indonesia sendiri telah lebih dari seribu pasien dinyatakan sembuh dan jumlahnya masih terus akan bertambah. Janganlah pesimis dan tertekan. Patuhilah semua instruksi dari tenaga medis yang bertugas.

Walaupun obat spesifik dari COVID-19 masih belum ditemukan, menurut beberapa penelitian, beberapa obat untuk penyakit lain dapat digunakan untuk membantu penyembuhan COVID-19 (BPOM, 2020). Contohnya adalah favipiravir (obat influensa) dan klorokuin (obat malaria) yang telah banyak disebutkan dalam media massa. Namun,  penting untuk diketahui bahwa obat-obatan ini adalah obat keras yang harus dikonsumsi dengan resep dan pengawasan dokter. Sangatlah berbahaya dan tidak bijak untuk mengonsumsi obat-obatan ini secara mandiri karena dapat menimbulkan efek samping yang justru membahayakan.

 

Oleh : Benedictus Tjahjana dan Stella Vania
Gambar sampul: Markus Spiske from Pexels

Referensi

Badan Pengawasan Obat dan Makanan. (2020). Informatorium Obat COVID-19 Di Indonesia. Retrieved from http://online.flipbuilder.com/tbog/infi/mobile/index.html

Centers for Disease Control and Prevention. (2020). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Retrieved from https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-nCoV/index.html

Tan, R. (2020). COVID-19 Diagnostics Explained. Retrieved from Asian Scientist Magazine website: https://www.asianscientist.com/2020/04/features/covid-19-diagnostics-explained/

World Health Organization. (2020). Q&A on coronaviruses (COVID-19). Retrieved from https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses