Renungan Pentakosta: Roh Allah Bergerak dalam Sejarah

“Belajar dari perjalanan Gereja dalam sejarah, membuat kita dalam situasi mencekam selama pandemi Covid-19, semakin menyadari bahwa Roh Kudus (Roh Allah) akan selalu setia bersama kita.”

Sudah sepatutnya, kita semua, umat Kristiani bernyanyi “Happy Birthday” untuk Gereja Yesus Kristus. Ya, pada 31 Mei kemarin Gereja merayakan ulang tahunnya. Usianya cukup tua, sudah ribuan tahun.

Peristiwa “Roh Kudus”—yang adalah Roh Allah—turun atas para rasul dan Bunda Maria, diyakini sebagai hari lahirnya Gereja. Sejak itu, Gereja (sah) berdiri dan berkembang.

Perkembangan Gereja bermula dari Kedatangan Yesus Kristus. Yesus tidak mendirikan Gereja, melainkan Dia mempersiapkannya secara khusus dan mengamanatkannya melalui para Rasul.

Barulah melalui rasul-rasul-Nya—Dan berkat embusan Roh Kudus—Gereja berkembang hingga saat ini. Para klerus (imam dan biarawan/i) secara khusus mendedikasikan dirinya dengan cuma-cuma untuk meneruskan tongkat estafet pewartaan para rasul.

Dalam perjalanan sejarah, perkembangan Gereja mendapatkan tantangan hebat. Walaupun sempat “mendominasi” pada abad pertengahan—sekitar abad IV sampai IV, dengan melahirkan para Teolog hebat dan para pembela iman, seperti Thomas Aquinas, Agustinus, Anselmus, Bonaventura, dan sebagainya—Gereja diterpa “badai” hebat ketika Martin Luther, seorang imam Agustinian, melepaskan jubahnya dan ketaatan imamat suci. Kelak, pengikut Martin Luther, menamakan diri “Protestan”.

Selain itu, lahirnya Renaisans: kelahiran kembali budaya Yunani-Romawi, serta Humanisme, yang adalah aliran yang melihat manusia sebagai pusat segala sesuatu. Dibarengi dengan Filsafat yang mulai mengasah pedangnya dan memenggal “kepala” setiap paham yang dicap irasional. Gereja dan Teologi tidak luput dari tantang itu, hingga paham Teologi dicap takhayul dan irasional.

Telur Empirisme juga mulai menetas. Yang mempercayai segala sesuatu dengan rekaman panca indra dan sesuatu yang bisa dibuktikan keberadaannya. Oleh karena itu, Gereja yang berkoar-koar tentang Sabda Allah, yang tak bisa dilihat wujudnya itu dicap mengada-ada, irasional, takhayul, bergaung dalam opini semata.

Badai yang tak kalah hebat menghempas Gereja adalah lahirnya “Aufklarung” atau pencerahan. Imanuel Kant, seorang filsuf tersohor, mengagungkan jargon terkenal “Sapere Aude”, berani berpikir sendiri. Paham antroposisme, Manusia dipandang sebagai pusat segala sesuatu, juga mulai berjaya. Efeknya mengenai tubuh Gereja, yang dinilai sebagai memperbudak manusia. Para Agamawan ibarat “hamba” yang tunduk secara buta kepada dogma-dogma agama.

Anggapan itu semakin nyaring dan ditertawai oleh kaum Ateis dengan aliran Ateisme, yakni paham yang tidak percaya pada Allah. Allah dianggap tidak ada. Nietzsche, dengan cerita terkenalnya  Also sprach Zarathustra: Ein Buch für Alle und Keinen, mengagungkan “Tuhan Telah Mati”. Jean Paul Sartre, dengan paham eksistensialisme, menganggap Tuhan telah mengekang kebebasan manusia. Dogma-dogma agama telah menjadi “penjara jiwa”. Dan Manusia tidak bebas. Manusia diperbudak. Sigmund Freud, bapak Psikoanalisa, menganggap Agamawan bersikap infantil atau kekanak-kanakan. Mirip anak kecil, yaitu selalu meminta ini-itu. Selalu mengemis kepada Tuhan, bagaikan anak kecil mengemis kepada ibunya.

Gereja mendapat angin segar kala reformasi Perancis pecah (Révolution française; 1789–1799). Sekularisasi sebagai pemisahan campur tangan Gereja dalam pemerintah, dianggap positif karena Gereja akan sibuk dengan bidangnya sendiri, yakni masalah relasi antara Gereja dengan Allah sendiri. Biasnya terasa hingga di Tanah air tercinta, di mana Gereja tidak secara langsung campur baur dengan urusan pemerintahan, walaupun dalam situasi tertentu masih melakukannya.

Namun, trauma masa lalu dengan lahirnya Empirisme kembali terulang kala perkembangan zaman demikian cepat. Sains dengan kemahakuasaan empiris dan tuhan rasio, serta teknologi yang semakin mutakhir menjadi tantangan terbesar Gereja saat ini. Bermula dari Teori Big Bang Darwin, hingga Teori Mekanika Kuantum yang terkenal itu. Membuat Eropa menjadi “pembunuh” Tuhan sebagaimana diamanatkan oleh Nietzsche. Eropa saat ini demikian sekuler. Sekularisasi diradikalisasi menjadi sekularisme, menganggap Allah tidak ada campur tangan di dunia ini. Alah sibuk duduk manis di Firdaus yang demikian utopis itu.

Tak luput dari pengamatan juga, paham terorisme yang berkembang, khusus dari Timur Tengah, hingga menjalar ke Bumi Pertiwi. Pelbagai ulah para teroris sudah menunjukkan buktinya. Gereja-gereja dibumihanguskan bersama ribuan nyawa yang melayang. Para Teroris sebagai pelaku tertawa bahagia, sebab Ribuan Dewi Cantik di Negeri Kayangan akan menanti mereka, dengan membunuh, mereka akan selamat dan bersatu dengan Dewi-Dewi itu.

Pelbagai Selayang Pandang Perjalanan Gereja di atas adalah renungan bersama bahwa Gereja ibarat sudah sangat dewasa dan mandiri. Pelbagai tantangan sudah dihadapi dengan tenang, seperti bahtera yang sampai di pulau tujuan.

Kunci Gereja bertahan adalah berkat para pemimpin Gereja, Paus (dan kaum tertahbis) yang selalu menggandeng pelbagai bentuk kemajuan zaman, sains (ilmu pengetahuan) dan teknologi, sebagai “Saudara” yang perlu dikasihi dan sebagai sarana untuk tempat mengagungkan pewartaan Sabda Allah. Konsili Vatikan II dalam sejarah Gereja adalah bukti nyata bahwa Gereja benar-benar mengasihi sesamanya, baik bentuk modernisasi, maupun sesama yang berbeda, sebagai saudara dan bukan musuh.

Namun, dengan mata kontemplatif, lebih jauh kita melihat bahwa semua itu adalah karya tangan Allah sendiri melalui para pemimpin Gereja. Allah yang telah menunjukkan wajahnya melalui peristiwa Inkarnasi Yesus Kristus (ekonomi keselamatan) dan mengaruniakan Roh Kudus—sebagaimana peristiwa Pentakosta—adalah yang melakukan semuanya itu, dibalik pengamatan indrawi dan kesadaran kita bersama. Allah adalah Dia yang selalu bersama umat-Nya dahulu, saat ini, dan yang akan datang. Sebagaimana Paus Emeritus Benediktus XVI mengatakan bahwa, “….Yang membuat Gereja bertahan hingga saat ini adalah karunia Roh Kudus ( Roh Allah).

Akhirnya, belajar dari perjalanan Gereja dalam sejarah, membuat kita dalam situasi mencekam selama pandemi Covid-19, semakin menyadari bahwa Roh Kudus (Roh Allah) akan selalu setia bersama kita. Yakinlah dan percayalah. Selamat hari Pentakosta.

 

Oleh: Fr. Nando Sengkang, CICM
Gambar sampul:  mali maeder from Pexels