“New Normal” dengan Akal Sehat

Siap-siap saja, kita akan beralih ke cara hidup baru (new normal). Kata “baru” di sini, dipahami dalam konteks  pandemi Corona.  Sebenarnya, perubahan ini bukanlah suatu kehidupan yang benar-benar baru, melainkan suatu strategi untuk mengupayakan pencegahan pandemi Covid-19, tanpa terkurung di dalam rumah. Protokol kesehatan adalah syarat utama: jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, dan sebagainya adalah beberapa contoh new normal.

Sebelum wabah ini menjalar, berarti situasi pra-Corona, kita mengikuti kehidupan ala kadarnya, hingga gaya hidup “cepat saji”. Artinya, menyukai sesuatu yang instan, cepat, tidak ribet,  dan memotong waktu jangka panjang. Ala kadarnya, artinya, tidak terlalu memperhatikan kesehatan—walau beberapa menerapkannya. Jarak merapat antara tuduhan berzina atau temu kangen dianggap normal saja. Berpelukan di sudut-sudut taman kota yang remang-remang dianggap biasa saja—walau dikutuk oleh “megafon” agama. Penumpang penuh-sesak dalam transportasi umum di Ibu Kota, misalnya, dianggap ibarat tampilan wajah modernitas dan kemajuan kota—walau dompet dan barang-barang berharga dijaga dari para pencuri gelap. Generasi Milenial yang terjebak dalam “gua-gua” gawai, dicap tak sosialis, cuek, acuh tak acuh, hingga teguran keras, “Tak punya rasa peeu”, akhir-akhir ini harus masuk kembali ke dalam “gua” gawai. Maksudnya, mau tak mau, harus menggunakan gawai atau sarana teknologi lainnya untuk menunjang kehidupan selama pandemik.

Singkatnya, semuanya (harus) berada di rumah, agar penyebaran virus mematikan ini bisa teratasi.

Berbeda dengan situasi di atas, selama berada dalam “jebakan” virus mematikan ini, kehidupan mulai perlahan berubah. “Stay at Home”, menjadi anjuran tegas pelbagai kalangan, mulai dari aparat pemerintah, hingga masyarakat yang mengerti secukupnya. Singkatnya, semuanya (harus) berada di rumah, agar penyebaran virus mematikan ini bisa teratasi. Tulisan ini lahir dari mengikuti anjuran tersebut, bahkan penulis lebih radikal menganjurkan, khususnya bagi mahasiswa, “Stay at your Book” (pembaca silahkan menafsirkannya sendiri).

Dancing Pallbears dari Ghana, yang viral sejak 2017 melalui meme di internet, kembali populer kala menganjurkan masyarakat agar tetap di rumah, “Stay at Home or Dancing with US”. Tafsiran penulis, jika tidak di rumah, siap-siap saja kematian akan menjemput bak hantu tak diundang. Dancing Pallbears adalah kelompok pengangkut jenazah. Uniknya, dalam perjalanan menuju kuburan, mereka menari laksana kematian adalah sesuatu yang perlu dirayakan penuh sukacita. Pembaca memahami ini dengan mengaitkan konteks dan kehidupan budaya setempat. Agar tidak mengutuki model pemakaman seperti itu.

Selanjutnya, situasi pasca Corona nantinya, akan membawa pelbagai perubahan dalam setiap segi kehidupan. Dalam dunia sepakbola, misalnya, Bundesliga Jerman yang sedang bergulir menampilkan wajah baru. Stadion yang selalu dipenuhi penonton, kini sunyi bagaikan teater horor tak bertuan. Gol-gol memukau para striker tajam, dirayakan tanpa pelukan kegembiraan. Hingga, semua pemain yang berada di luar garis lapangan permainan, menggunakan masker. Salah satu tampilan dunia olahraga ini adalah wajah kehidupan new normal.

Sebenarnya, ini (new normal) bukanlah kehidupan yang benar-benar baru, melainkan suatu strategi untuk mengupayakan pencegahan pandemi Covid-19, tanpa terkurung di dalam rumah.

Dengan demikian, new normal, singkatnya adalah kelanjutan untuk menerapkan gaya hidup selama pandemik. Sebenarnya, ini bukanlah kehidupan yang benar-benar baru, melainkan suatu strategi untuk mengupayakan pencegahan pandemi Covid-19, tanpa terkurung di dalam rumah. Protokol kesehatan adalah syarat utama: jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, dan sebagainya adalah beberapa contoh new normal.

Normal dengan Otak yang “Normal”

Cara hidup new normal, itu mudah saja jika kita mengikuti anjuran yang diberikan. Namun akan terlihat susah dan memperparah keadaan jika meremehkan atau mengingkari anjuran yang diberikan. Inilah yang akan kita refleksikan bersama.

Refleksi awal untuk new normal, hemat penulis, adalah menggunakan akal sehat yang baik. Akal sehat, yang dianugerahkan untuk berpikir sebaiknya diperas agar menghasilkan “cairan” pemahaman yang kritis dan reflektif demi suatu solusi yang bermuara pada Bonum Commune (kebaikan bersama).

Ulah masyarakat Indonesia, akhir-akhir ini yang tidak mengikuti protokol kesehatan, adalah hasil dari mengingkari akal sehat.

Menggunakan akal sehat yang baik akan membantu kita untuk memahami secara mendalam apa arti dan tujuan penerapan gaya hidup baru, mengapa dianjurkan, dan pelbagai decak tanya lainnya. Mengabaikan akal sehat akan bermuara pada aksi yang menyimpang. Ulah masyarakat Indonesia, akhir-akhir ini yang tidak mengikuti protokol kesehatan, adalah hasil dari mengingkari akal sehat. Tidak berpikir lebih jauh, apa dampak dari ulah yang sungguh memprihatinkan dan memalukan itu . Akal sehat digunakan sebagai langkah awal.

Selanjutnya, setelah memahami dengan baik (fungsi akal sehat), aksi nyata adalah langkah berikutnya. Setelah akal sehat membantu proses refleksi, merenungkan sesuatu: mengapa, apa, dan bagaimana, apa dampak positif dan negatif, selanjutnya aksi nyata adalah bukti dari renungan reflektif dengan bantuan akal sehat. Aksi nyata adalah menerapkan semua anjuran terhadap gaya hidup baru (new normal). Dengan mengikuti pelbagai anjuran tersebut, kiranya “hantu” virus mematikan yang terus bergentayangan akan lenyap tak kembali. Akhir kata, selamat datang di kehidupan new normal.

 

Oleh: Fr. Nando Sengkang, CICM
Gambar sampul:  Gustavo Fring from Pexels