Melampaui Rasa Bosan

Selama pandemi, ungkapan yang menggema adalah “Rasa Bosan”. Benarkah? Tentu tidak semua. Beberapa merasa bosan, ada juga yang merasa biasa-biasa saja, turut hadir mereka yang tak merasa apa-apa, hidup berlalu begitu saja. Tanpa adanya tarikan makna sebagai bekal di kemudian hari. Sungguh memprihatinkan.

Dalam percakapan dengan beberapa teman, kebanyakan mengeluh atas situasi yang dialami. Dalam keluhan itu, kata “bosan” menjadi dominan. Bosan karena di rumah saja, bosan karena di kos, bosan karena tidak bisa jalan-jalan. Aktivitas harian hanya berputar dalam bilik sempit, bangun pagi tak menentu, sarapan kadang bergeser dan dirangkap dengan jam makan siang, kuliah online memantik dilema antara beli kuota dan persediaan makanan, malam hari ibarat siang hari, jam istirahat malam kembali tak menentu. Semuanya jadi tak menentu. Hingga bermuara menjadi rasa bosan! Kebosanan ini, akhirnya, melahirkan istilah terkenal, “Generasi Rebahan”.

 “Generasi Rebahan”

Istilah ini menjadi terkenal selama pandemi berlangsung. Khususnya, disematkan kepada para lulusan dalam pandemik, baik para siswa/i, maupun para mahasiswa/i. Selain istilah ini, mereka juga bergelar “Lulusan Corona”. Kedua istilah ini menjalar liar melalui medsos. Dengan demikian, Dunia Maya menjadi sarana mempopulerkannya.

Sebenarnya, istilah ini lebih dulu hadir. Kehadirannya nampak kala banyak pihak mengeluh atas sikap generasi sekarang, yang keren disebut “milenial”. Kaum Milenial ini dicap pemalas, kurang produktif, kurang bekerja keras. Mereka sibuk rebahan sambil senyum-senyum sendiri didepan layar kaca (gawai). Sangat aneh. Atas sikap demikian, mereka pantas mendapat gelar kehormatan: “Generasi Rebahan”.

Kaum Milenial saat ini berwajah ganda, menampilkan ciri rebahan dan kreatif.

Akan tetapi, istilah tersebut tidak berlaku universal. Tidak semua Kaum milenial pemalas.  Beberapa terkenal karena daya kreatif-imajinatif, melalui imajinasi banyak menghasilkan sesuatu yang kreatif. Kreativitas menjadi salah satu ciri khas mereka. Pelbagai bentuk kreativitas ibarat prestasi yang bisa mengimbangi cap buruk di atas. Akhirnya, Kaum Milenial saat ini berwajah ganda, menampilkan ciri rebahan dan kreatif. Tergantung dari mana mereka menunjukkan wajah ganda tersebut dalam kehidupan nyata.

 Lahirnya Rasa Bosan

Rasa bosan, bagi saya, lahir kala kreativitas menjadi macet. Kreativitas itu variatif, tergantung kemampuan setiap individu. Kala kreativitas tak mampu diciptakan, maka akan lahir rasa yang demikian tawar. Hidup berlalu dari terbitnya matahari hingga terbitnya rembulan. Tanpa ada rasa dan makna yang terselip. Lalu dan pergi begitu saja.

Dalam situasi pandemi, kreativitas adalah satu-satunya pilihan. Inti utama dari Kreativitas, kata Ken Robinson (pemikir Inggris), adalah kesempatan bagi setiap orang untuk mengembangkan semua kemampuan yang mereka miliki dalam dirinya (Reza. A. A. Wattimena, 2020). Senada dengan Robinson, pada hemat saya, dalam “jebakan” situasi pandemi inilah kesempatan kita untuk mengembangkan kemampuan yang kita miliki. Dalam pengembangan itu, langkah pertama adalah mengenal diri sendiri dengan melihat apa kekurangan dan kelebihan. Kekurangan diri menjadi modal untuk berubah, sedangkan kelebihan diri sebagai modal untuk terus berkreasi dan mengisi kekurangan yang ada. Dengan mengenal diri sendiri, kita bisa terlahir menjadi pribadi kreatif. Akhirnya, dari pribadi kreatif itulah kita bisa menciptakan pelbagai kreativitas yang inovatif, serta berguna bagi pengembangan diri dan sesama. Serta melawan rasa bosan dalam pandemi.

Dalam situasi pandemi, kreativitas adalah satu-satunya pilihan.

 Membaca dan Menulis

Dua cara menikmati situasi pandemik, bagi saya, adalah membaca dan menulis. Inilah bentuk kreativitas yang sangat sederhana. Tentu ada kegiatan lain yang saya lakukan, namun yang dominan adalah kedua hal tersebut. Membaca adalah hobi saya. Hobi ini lahir dari bercermin pada diri sendiri, yaitu melihat apa kekurangan dan kelebihan diri. Kekurangan yang saya temukan adalah miskinnya pengetahuan. Karena itu, untuk mengatasinya, belajar adalah satu-satunya pilihan; membaca adalah bentuk dari proses pembelajaran.

Buku-buku ibarat cermin. Ketika saya membaca, saya sedang bercermin. Saya melihat diri sendiri yang banyak kekurangan dan miskin pengetahuan. Terkadang buku-buku yang berjejer rapi ibarat meletupkan sindiran, menertawai diri pembaca yang masih banyak kekurangan. Buku-buku ibarat Mesias yang datang sebagai penyelamat. Dengan demikian, semakin banyak membaca, semakin saya sadar bahwa saya banyak tidak tahu.

Selain membaca, saya suka menulis. Tulisan adalah bentuk dari nyanyian ide-ide yang berputar di kepala. Ide-ide itu hasil dari proses membaca dan pergulatan meneropong realitas. Setelah meneropong, saya melakukan Zoom, agar bisa melihat secara jernih dengan mata kritis.

Selain itu, hemat saya menulis adalah bentuk pelayanan. Saya menulis, berarti saya melayani. Dalam melayani, impian terbesar adalah tulisan tersebut dapat membawa perubahan terhadap diri pembaca. Hal ini senada diungkapkan A. Sudiarja, filsuf dan guru besar STF Driyarkara, penulis mempunyai niat untuk mengubah atau memperbaharui masyarakat, tidak dengan memaksakan diri melalui kekerasan dan pemaksaan kehendak yang sering menimbulkan konflik dan kekacauan, melainkan melalui gagasan atau usulan akademik. Inilah nilai yang tak terperikan (A. Sudiarja, 2018). Hal ini juga yang mendorong saya untuk menyajikan “makanan intelektual” gratis, yaitu tulisan yang ada di depan mata pembaca.

Melampaui Rasa Bosan

Dua contoh, membaca dan menulis, masih sangat minim. Masih banyak contoh di luar sana yang bisa temukan. Contoh-contoh tersebut adalah bentuk kreativitas yang variatif. Dengan kreativitas, imajinasi dan inovasi menjadi hidup dan sejalan, kata Ken Robinson.

Dengan demikian, mengutip Reza A. A. Wattimena, inti utama dari kreativitas adalah kesempatan bagi setiap orang untuk mengembangkan semua kemampuan yang mereka miliki dalam dirinya (Ken Robinson). Untuk itu, kreativitas harus menjadi bagian dari budaya, terutama budaya pengembangan imajinasi dan inovasi. Dalam arti ini, imajinasi adalah keberanian untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang lain yang tak terpikirkan sebelumnya. Ia merupakan dasar bagi kreativitas dan inovasi, yakni kemampuan untuk menyatukan sudut pandang baru untuk menciptakan [perubahan] yang berkelanjutan (2020). Dengan melakukan hal ini, kita bisa melampaui rasa bosan dalam “jebakan” pandemik. Hidup akan berlalu demikian indah. Bagaimana?

 

Oleh: Fr. Nando Sengkang, CICM
Gambar Sampul: Александр Македонский from Pexels