Korona, Superhero, dan Manusia 

Sudah banyak petugas kesehatan yang gugur dalam pelayanan melawan Covid-19. Selama peredaran pandemi ini masih masif, korbannya tentu akan terus ada.

Beberapa waktu lalu, warga Indonesia dirundung duka mendengar berita seorang perawat di RS Royal Surabaya yang tengah hamil empat bulan meninggal akibat Covid-19. Ini untuk kesekian kalinya petugas kesehatan di negeri ini takluk pada maut karena kedigdayaan korona.

Menurut Dewan Perawat Internasional (ICN), setidaknya 90.000 petugas kesehatan telah terinfeksi oleh penyakit coronavirus di seluruh dunia dan lebih dari 260 perawat telah meninggal. Di Indonesia sendiri menurut Amnesti Internasional Indonesia sekurang-kurangnya sudah ada 59 petugas kesehatan yang terinfeksi dan beberapa meninggal akibat virus ini.

Apabila situasi ini terus berlanjut, akan ada banyak anak petugas kesehatan yang tumbuh tanpa ibu atau bapa, suami atau istri yang kehilangan pasangannya, ataupun keluarga yang kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Bayangkan saja bagaimana perasaan para keluarga melihat orang-orang yang dicintai gugur dalam perjuangan.

Superhero

Di awal Maret lalu banjir pujian dan doa bagi petugas kesehatan memenuhi jagat maya. Sebagai keluarga petugas kesehatan, melihat orang yang dicintai menjadi pejuang di tengah wabah ini rasanya mengharukan dan bangga sekali. Merasa terhormat menyaksikan sosok yang  dicinta dianggap seorang salvator (penyelamat) di tengah wabah ini.

Tidak tanggung-tanggung, para petugas medis dilukiskan warganet sebagai superman ataupun superhero. Kawan-kawannya pun tunduk memberi hormat kepada mereka para pejuang kemanusiaan. Suatu penghargaan yang luar biasa.

Di tengah banjir pujian kepada para pejuang kemanusiaa ini, sayang seribu sayang, kecenderungan menyamakan begitu saja petugas medis dan para superhero membuat masih banyak masyarakat acuh tak acuh pada protokol kesehatan.

Banyak yang mungkin lupa petugas medis itu juga manusia biasa.

Banyak yang mungkin lupa petugas medis itu juga manusia biasa; punya anak, pasangan, dan keluarga. Mereka dapat sakit, lelah, putus asa, bersedih, imunnya menurun, dapat terinfeksi virus dari pasien, dan lebih mengenaskan lagi, mereka dapat mati karena virus itu juga.

Hal ini berbahaya sekali karena bagaimanapun juga, superhero yang digambarkan itu hanya imajinasi akal budi saja. Superhero tidak bisa mati, tidak punya keluarga, tenaganya jauh lebih kuat dari manusia, dan hal-hal luar biasa lainnya yang berada di luar batas kemanusiaan kita. Sedangkan, para petugas kesehatan itu manusia, mereka dapat mati.

Ketaatan

Sekarang situasinya darurat. Menyamakan begitu saja petugas kesehatan dan superhero tanpa kesadaran dan pemahaman yang jelas membuat sebagian orang cenderung teledor terhadap kesehatan. Apalagi New Normal sudah mulai berlaku di beberapa tempat. Artinya, intensitas aktivitas di luar rumah makin tinggi. Jika masyarakat tetap bandel terhadap protokol kesehatan, masa tahanan para petugas di rumah sakit-rumah sakit semakin panjang. Pastinya juga, jumlah mereka yang gugur semakin banyak. Oleh karena itu, taat protokol kesehatan itu wajib hukumnya.

Altruisme Levinas Petugas Kesehatan

Ketika berbicara tentang relasi antarmanusia, Emmanuel Levinas seorang Filsuf eksistensialis menyatakan, “Relasi yang benar adalah relasi yang sungguh-sungguh mengutamakan orang lain (transendensi total) yang terungkap dalam tanggung jawab terhadapnya.” Artinya, ketika saya melihat wajah orang lain (alter) yang sedang susah atau membutuhkan pertolongan, saya perlu ikut bertanggung jawab terhadap orang itu. Wajah orang lain mengundang saya untuk terlibat dalam hidupnya.

“Relasi yang benar adalah relasi yang sungguh-sungguh mengutamakan orang lain (transendensi total) yang terungkap dalam tanggung jawab terhadapnya.” – Emmanuel Levinas

Hal ini mengandaikan orang sudah meninggalkan kepentingannya hingga mau berkorban untuk yang lain. Di situasi pandemi ini, para petugas kesehatan sudah menunjukkan bahwa mereka adalah gambaran orang-orang yang meninggalkan kenyamanan dirinya untuk melayani dan menyelamatkan yang lain.

Saya katakan demikian karena, pertama, mereka berani meninggalkan keluarga dan orang-orang yang mereka cintai demi membantu orang lain. Artinya mereka menerobos batas aman dan tanggung jawab mereka terhadap keluarga sendiri demi membantu para pasien.

Kedua, jika ada yang menyanggah dengan mengatakan bahwa itu kan karena sumpah profesi mereka, perlu diingat bahwa ada banyak orang yang sering melanggar sumpah demi kepentingan pribadi, misalnya korupsi, dll. Para petugas medis ini luar biasa karena mau mempertaruhkan nyawa mereka sendiri demi tugas perutusan.

Ketiga, semangat magis (Latin: ‘lebih’) kemanusiaan. Artinya mereka memiliki motivasi lebih untuk menyelamatkan nyawa manusia. Mereka membiarkan diri sendiri terpapar pada keprihatinan kemanusiaan; virus Covid-19. Mereka telah melupakan kepentingan pribadi, bahkan hidupnya sendiri, demi menolong yang lain. Padahal mereka bisa bebas memilih apakah mau melanggar sumpah profesi atau tidak. Tapi sekali lagi mereka bukan hanya setia, tetapi memberi lebih (magis)  demi cinta akan kemanusiaan

Kepatuhan kita adalah jaminan keselamatan hidup bagi “yang lain”: petugas kesehatan, keluarga, dan orang-orang di sekitar kita. Itulah tanggung jawab kita.

Totalitas dan Keterbatasan

Dari petugas kesehatan kita bisa melihat totalitas dan cinta akan kemanusian para petugas medis tinggi sekali. Selain itu, juga harus disadari bahwa mereka itu manusia. Sebagai manusia mereka itu terbatas. Mereka bisa sakit dan mati juga. Mereka tidak sepenuhnya seperti superhero yang kita bayangkan dan gambarkan. Kita perlu bersama mereka menjaga kesehatan kita sendiri dengan mematuhi patuhi protokol kesehatan. Sebab, kepatuhan kita adalah jaminan keselamatan hidup bagi “yang lain”: petugas kesehatan, keluarga, dan orang-orang di sekitar kita. Itulah tanggung jawab kita.

Oleh: Fr. Engelbertus Viktor Daki, SJ
Foto sampul: Jonathan Borba from Pexels